To Be Dosen Now

20170926_170006

Teman-teman Dosen Paracendekia

Sebelumnya, apa kamu pernah membayangkan jadi seorang dosen?. Atau kamu hanya ingin tahu saja bagaimana kisah Dosen Now?. Tulisan ini dikhususkan buat kamu yang benar-benar kepengen menjadi dosen?. Dijamin setelah baca tulisan ini, kamu betah menjadi mahasiswa/i di kampus tercinta kamu.

Buat yang kepengen menjadi Dosen Now wajib baca tulisan ini. Tulisan Based on True Story saya dan teman-teman dosen lainnya. Jadi sesama dosen itu bisa saling curhat, tidak hanya membahas akademik dan penelitian saja. Kalau ada dosen memberi tugas yang banyak dan berat kepada mahasiswa itu sih pelampiasan atau balas dendam.ha.ha.ha.. tidak semua juga sih, ada dosen yang benar-benar kepengen mahasiswa/inya pintar, rajin baca buku, dan pandai berargumen, tidak suka yang diajarinya kosong melongpong, atau berargumennya tidak tepat atau sok tahu akibat kebanyakan micin.

Ini pengalaman menjadi dosen yang baik. Dosen yang taat dan tertib mengikuti administrasi kedosenan. Tidak sekadar administrasi, bisa jadi dalam mengurusinya lebih sadis dibandingkan mengurus administrasi untuk kepentingan lainnya. Pengurusan administrasi yang berhubungan dengan kantor layanan pemerintah. Kamu bisa curhat disini.

Pertama, dapat SK sebagai dosen dari Ketua kampus tempat mengajar.

Untuk dapat SK, begini ceritanya. Kalau di kampus swasta, harus dan atas persetujuan Bosse, yakni ketua Yayasan. Jika sistem manajemen kampusnya profesional anda beruntung, jika belum, harus mendekat ke Bosse. Ada rumus aneh dan terjadi juga di tempat yang lain, semakin mendekat Bosse, semakin cepat dapat.

Untuk dapat restu Bosse, kalau kamu merasa sebagai dosen yang baik, kamu cuma harus menunjukkan kompetensi dan keloyalan kamu sama lembaga. Cara mudah melihat kompetensi dosen, lihat ijazah S2nya. Dosen itu kuliah magisternya jurusan apa?. Maka bagian akademik atau ketua prodi akan menentukan matakuliah-matakuliah yang bisa kamu ajar. Di SK itu sendiri pun dicantumkan kamu mengampu matakuliah apa saja, minimal ada 3 mata kuliah. Meski praktiknya, kamu sebagai dosen muda dan baru wisuda, perlu sabar hanya mengampu satu mata kuliah saja. Kamu juga harus sabar, untuk mendapatkan SK sebagai dosen dari kampus tidak mudah.

Jadi bagi kamu yang kepengen jadi dosen, syarat pertamanya kamu harus sudah S2, kecuali kampus itu punya engkong kamu. Prodi apa saja yang penting kampusnya legal. Ini syarat administrasi dari negara yang pertama dan utama. Profil jenjang pendidikan dosen sebagai salah satu poin penilaian saat akreditasi kampus.

Sekilas cerita, bisa menyelesaikan S2, perjuangannya tidak mudah. Sewaktu kuliah S2, ada 2 teman saya yang tidak selesai sampai wisuda, gara-gara Tesisnya tidak kelar-kelar. Nanti saya tulis pengalaman saya bagaimana perjuangan menyelesaikan Tesis. Kesannya angker ya, dan memang.

Singkatnya, SK Dosen sudah kamu dapat. Selanjutnya,

Kedua, pengajuan NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional).

Diibaratkan SIM bagi para pengendara. Kalau guru namanya NUPTK (Googling saja kepanjangannya). NIDN dikeluarkan pemerintah, yakni Direktorat Pendidikan Tinggi. Pengajuannya secara online ke website forlapdikti. Jadi pemerintah sudah punya database dosen-dosen se Indonesia baik di kampus negeri atau swasta yang penting legal. Pengajuannya dengan cara mengupload softfile berkas-berkas yang disyaratkan. Jadi kamu harus menscan terlebih dahulu berkas-berkas itu.

Biasanya kampus sudah menunjuk satu staff untuk mengurusi pengajuan NIDN, nah kamu harus jaga komunikasi yang baik dengan satu orang ini. Biar segera diupload berkas-berkasnya. Lalu apa saja berkas-berkasnya?.

Saya mau ceritakan dulu bagaimana perjuangan mendapatkan berkas-berkas. Minimal kamu harus keluar uang, waktu, pikiran dan tenaga. Kamu harus mengurusnya di Rumah Sakit. Sudah tahukan kalau rumah sakit itu tempat beragam orang sakit ada. Padahal kamu sedang tidak sakit atau sedang menengok kerabat kamu yang sedang sakit. Kamu hanya berburu berkas NIDN di rumah sakit.

Ini yang kamu harus dapatkan;

  1. Surat Keterangan Sehat
  2. Surat Bebas Narkoba, kamu harus jalani tes urine, jadi kamu harus kencing yang dimasukkan ke dalam botol kecil. Botolnya bening, jadi keliatan warna kencing kamu. Bening apa kuning mengkilat?.
  3. Menjawab soal tes psikotes kurang lebih 70 pertanyaan.
  4. Pasangan hidup bila kamu belum merit. ha.ha

Dan saya beruntung tes TOEFL belum disyaratkan. Mungkin kamu akan mengalami ini. Yang ini tidak ada di rumah sakit.

Sewaktu kamu mengurusi berkas-berkas ini, kamu akan bertemu sesama profesi dosen yang sedang mengalami nasib yang sama. Kamu tidak sendiri, makanya kamu harus mengantri, terima nama kamu dipanggil petugas untuk giliran dicek.

Sembari duduk di antrian, kamu bisa kenalan dengan orang di sebelah duduk kamu. Saling tanya-tanya, ngajar di kampus apa?, dulu kuliah dimana?, jurusan apa?, ngajar matakuliah apa?. Gajinya berapa?. Obrolannya tidak terlalu lama, karena orang ini kenalan lagi sama cewe.

Kamu tidak nanya, berapa biaya buat ngurusi persyaratan NIDN di Rumah sakit ini?. Minimal 450.000. Ini beda-beda tiap rumah sakitnya. Uang sendiri apa dari kampus?. Beruntung kalau kampus kampus kamu menggantinya, dan terima dengan pasrah, bila bayar dari kantong sendiri.

Untuk mendapatkan hasil tes-tes tadi, kamu harus menunggu, ada yang beberapa jam, ada juga yang beberapa hari. Beda-beda lagi tiap rumah sakitnya. Bila tidak langsung selesai hari itu juga, kamu harus kembali ke rumah sakit di hari lain. Demi untuk mendapatkan selembar keterangan tentang kamu. Demi NIDN.

Demi NIDN juga kamu akan alami, hidup ini terasa masuk ke dalam kotak, sementara kotaknya banyak. Kamu harus pilih satu kotak itu saja, tidak bisa semuanya. Kotak ini adalah kampus, tempat kamu mendaftarkan NIDN. Kalau kamu sudah memiliki NIDN, ingin mengajar di kampus lain, sewaktu lamaran dilihat status NIDN ini, kecuali kamu punya ilmu yang kampus butuhkan. Tiap satu prodi minimal harus ada 6 dosen yang didaftarkan NIDNnya dari prodi tersebut. Ini menjadi poin penilaian saat akreditas prodi.

Setelah semua sudah siap, kamu serahkan ke staff kampus yang mengurusi NIDN, selanjutnya kamu perbanyak berdoa, sedekah, dan fokus untuk mengajar. Tunggu saja kabar bahagianya. Saya menunggu tidak terlalu lama, kurang dua bulan. Dan akhirnya, angka 8 digit dari pemerintah akan kamu dapatkan.

NIDN sudah punya, selanjutnya?..

Tahapan yang Ketiga, pengajuan SKTP (Surat Keterangan Tenaga Pengajar)

Berkas-berkasnya diajukan ke Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Islam Swasta), kalau negeri saya belum tahu. Sistemnya tidak online, masih manual, jadi utusan dari kampus yang harus menyerahkan langsung berkas-berkasnya.

Bila online gangguannya sistem ITnya, kalau manual, seperti pengurusan administrasi layanan dari pemerintah saja. Dimulai dari petugas, berkas yang terselip entah ada di mana, sampai berkasnya hilang tidak ada kabar, belum lagi petugasnya dimutasikan, maka pengajuannya bisa dimulai dari awal lagi. Ini yang saya alami. Saya menunggu kurang lebih satu tahun untuk mendapatkan SKTP ini.

Lucunya pemberitahuan SKTP sudah keluar, diinformasikan via WA. Saya dapatkan dari Group WA Dosen dan beberapa hari kemudian, teman dosen yang mengajar di kampus lain mengirim pesan via WA ke saya, isinya persis seperti yang dishare di group internal kampus. Entah sudah dishare keberapa group dosen-dosen bahwa SKTP saya sudah jadi. Yang belum tinggal dimuat di Koran dan TV.

Alhamdulillah, akhirnya penantian panjang SKTP sudah saya dapatkan. Tapi perjalanan belum selesai, ini selanjutnya…

Tahapan keempat, Pengajuan Kepangkatan Dosen

Di level ini posisi saya berada. Masih ada level selanjutnya, kamu cari sendiri informasinya?. Atau menunggu saya berada di posisi ini. Dan saya akan menuliskannya bila sudah berada di level ini. Doakan saya, saya pasti bisa.

 

NB: Saya baru menulis pengalaman keadministrasian dosen, belum tentang kesejahteraan dosen. Kisahnya lebih seru atau tidak samasekali bagi seorang dosen.

Iklan

3 respons untuk ‘To Be Dosen Now

  1. endang cippy berkata:

    Sebaiknya, kolom komentar ditaruh di paling bawah. Aku sampai nanjak ke atas artikelnya buat ninggalin komentarnya. Mungkin, karena aku juga aku tidak biasa melihat kolomnya ada diatas. Jadinya, kayak kerja dua kali u scroll ke atas.

    Panjang juga ya.. buat dapetin SK Dosen 😁 Perjuangan yakkk

    Suka

  2. endang cippy berkata:

    Iya Pak Dosen..
    Mau dong sekali-kali masuk ke dalam kelasmu.
    Pengen merasakan jadi mahasiswa nyelip dalam kelas *ehhh

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s